Tanpa kepastian
Katy mengeluarkan HP dari dalam tas tangannya. Hanya dengan menekan satu tombol otomatis terhubung pada nomer seseorang. Calling. Nada sambung mulai terdengar kemudian. Bibirnya berkomat-kamit tak kalah gencar dengan suara statis yang sudah beberapa kali tak kunjung terhenti.
Bangunlah, Vanya! Pesawat akan berangkat! Sebentar lagi aku pergi. Kamu di mana? Kenapa panggilanku tidak kamu jawab sama sekali? Bukankah semalam kamu janji akan bangun pagi-pagi dan hadir mengantarkan kepergianku?
Katy menggigit bibir. Kesal juga rasanya. Sudah nada panggil terakhir. Hening yang dia dengar sekarang. Ia menenteng jaket tebalnya di tangan kiri. Tangan kanan tidak pernah lepas dari ponsel. Sejak tadi hanya menghubungi nomer yang sama. Sedih karena kepergiannya tidak hanya keluar kota dan tidak sebentar. Dia adalah siswa pertukaran pelajar satu tahun di Moskow. Jauh dari Vanya selama itu betapa beratnya.
Vanya, kuharap kau terjaga, jika memang kamu masih terlelap di atas bantal empukmu. Bukalah kedua mata jernihmu yang selalu membuatku tenang di tengah resah tak pastiku.
Katy mengedarkan pandangan ke sekitar pintu keberangkatan. Di tengah keramaian seperti ini sulit sekali menangkap sosok Vanya jika memang dia telah berada ada di sana. Pacarnya tidak sejangkung bapak kepala sekolah sampai bisa terlihat dari kejauhan. Pakaian yang biasa dikenakannya pun tidak pernah berwarna cerah.
Sepuluh menit kemudian Katy terkejut sendiri ketika Motorola RAZR-nya bergetar panjang-panjang. Vanya! Tertera gambar laki-laki berdagu belah itu di LCD. Tidak perlu menunggu getaran berikutnya langsung dijawab.
“Hey,” sapa Katy lega bercampur dan kesal.
“Hai,” jawab suara tenang di seberang.
“Vanya, pagi ini aku berangkat. Sebentar lagi aku harus masuk ke ruang tunggu. Kamu di mana?” Tanya Katy seraya melihat jam tangan.
“Aku tadi ada urusan. Jalanan macet! Mungkin aku tidak akan sampai ke sana dalam waktu setengah jam. Maaf, sayang. Kamu tidak apa-apa kan?” Vanya memastikan seolah Katy akan ngambek.
Katy menundukkan kepala. Menatap sepatu converse biru pemberian Vanya dengan lesu. Sudah diduga jika hal ini akan terjadi. Tidak perlu terkejut. Begitulah Vanya. Hal yang dianggap penting oleh Katy justru sepele di mata sang pacar. Susah memberi pengertian padanya.
“Ya sudah. Aku harus masuk ke ruang tunggu sekarang. Kutelfon begitu pesawat mendarat di Changi. Oya, Aku bawa jaket kembar kita. Kamu masih ingat, kan? Tapi ini tidak akan cukup. Aku mau beli jaket yang lebih tebal lagi begitu tiba di Moskow.”
“Semoga perjalananmu menyenangkan, Sayang. HP-ku low bat. Pulsaku juga sebentar lagi habis. Jangan lupa segera cari warnet terdekat saat kamu tiba di sana. Bye, Say!”
Klik! Hubungan telfon diakhiri sebelum Katy mengatakan sesuatu. Susah sekali mengubah karakter Vanya agar bisa lebih hangat. Paling tidak untuk memahami dan menghibur Katy agar tidak terlalu sedih. Ternyata usia tidak menentukan kedewasaan seseorang. Boby, mantan pacarnya yang setahun lebih muda, sangat pengertian soal perasaan perempuan. Meskipun itu jadi indikasi utama seorang playboy. Memang tidak ada manusia sempurna.
Vanya berkenalan dengan Katy empat tahun lalu. Masih terhitung kerabat jauh, kata orangtua Katy. Vanya duduk di kelas dua SMU sementara Katy kelas satu SMP. Keduanya bertemu di salah satu acara keluarga. Momen dimana semua anggota keluarga besar berkumpul merayakan hari raya. Vanya tampak hanya menyendiri karena tidak menemukan teman sebaya. Kemudian dia melihat Katy baru saja turun dari mobil bersama kedua orangtuanya. Dia sedikit lega karena bisa menemukan teman bicara. Singkat cerita, keduanya pun berkenalan. Jalan. Pacaran.
Sebenarnya seperti bukan pacaran. Katy tidak pernah menghabiskan malam minggu bersama Vanya. Pacarnya siaran sejak pukul delapan malam sampai dua belas malam di sebuah stasiun radio swasta. Hari Minggu Vanya magang di sebuah TV kabel sebagai asisten produser sebuah program acara anak-anak. Alhasil Katy harus rela membiarkan dirinya hanya berdiam di rumah dan menghabiskan waktu menonton acara TV. Memang sejak pertama itu menjenuhkan. Sampai sekarang pun begitu. Tapi dia tidak bisa menuntut banyak. Vanya memang gila kerja.
Pesawat yang ditumpangi Katy tidak bisa berangkat dari Changi. Tertunda hampir dua jam. Cuaca di Singapura tidak begitu bagus. Ditambah lagi ternyata cuaca di Moskow kembali memburuk. Terminal kedatangan dan keberangkatan ditutup tanpa terkecuali. Katy menatap rombongan yang berangkat menemaninya. Ada tujuh orang. Perwakilan dari pihak sekolah Katy. Seorang jurnalis, dan wakil dari pihak sekolah di Moskow yang menyelenggarakan pertukaran pelajar tersebut. Mereka tidak terlihat kesal dengan penundaan itu. Malah berencana jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
Katy memilih tinggal di hotel. Dipinjamnya laptop sang jurnalis untuk mempergunakan jasa internet gratis. Semoga Vanya online. Harapnya. Dia mencari ID Vanya di daftar messenger. Di urutan paling bawah. Ah, dia offline. Katy mencoba menghubungi lewat ponsel tapi sulit terhubung dengan nomer yang dia tuju. Pasti sedang kerja, tebaknya dengan nada positif. Atau sedang berada di suatu tempat bersama seseorang? Katy mengutuk pikirannya sendiri. Kecemburuannya tidak berdasar. Vanya sangat tidak suka jika dia mulai bersikap kekanak-kanakan. Memang selama ini Vanya tidak pernah macam-macam, justru Katy yang pernah tergoda oleh yang lain. Meski akhirnya dia memutuskan kembali ke jalan yang benar.
Vanya memang lebih banyak diam. Tapi tetap saja Katy merindukannya. Sosok itu tipikal laki-laki tenang. Tapi dia bisa marah jika sesuatu terlalu mengusiknya. Terlihat di sinar matanya. Terbaca dalam ucapannya. Tapi tangannya tidak pernah jadi ringan. Vanya tetap sosok santun dan menyenangkan. Sampai kemarahannya reda dengan sendirinya.
Pada awalnya sulit membayangkan jauh dari Vanya selama setahun. Berada di kota yang segalanya serba berbeda dengan kondisi di Jakarta. Musim berganti sampai empat kali. Kadang-kadang esktrim saat musim dingin dengan salju yang menebal di jalanan dan keringat pun mengalir terus-menerus saat musim panas bergulir. Belum lagi beradaptasi dengan kebiasaan dan bahasa orang-orang sana. Tapi ternyata lambat laun Katy bisa melalui rintangan-rintangan itu. Teman-teman sekolahnya mulai bisa berinteraksi dengannya. Beberapa kebiasaan pun diikuti. Salah satunya minum Vodka dengan bebas.
Kebiasaan buruk itu otomatis berhenti begitu masa pertukaran pelajar telah selesai dijalani. Saatnya kembali ke tanah air dan menjadi dirinya sendiri. Meski ditawari gratis Katy bertekad tidak akan menyentuh minuman beralkohol jenis apa saja. Tinggi atau rendah kadar alkoholnya tetap saja bisa merusak hidupnya kelak.
Kedatangan Katy dinantikan oleh orang-orang terdekatnya. Mereka bergantian memeluk dan mengusap-usap kepalanya. Dia terharu dan tidak sanggup menahan air matanya. Setahun sudah banyak yang berubah. Ada mal-mal baru yang berdiri dengan gagah di pinggir jalan. Kemacetan sepertinya semakin parah. Itu memang bukan perubahan. Rambut putih di kepala ayahnya pun nampaknya semakin banyak saja. Katy melirik Vanya.
Pacarnya kini sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perkantoran. Rambutnya dipotong pendek dan dilumuri gel. Kelimis seperti layaknya pegawai kantor. Sebuah kacamata tipis menyangkut di batang hidungnya yang tidak begitu tinggi. Pakaiannya pun kini kemeja dan celana kain. Katy tidak habis mengerti mengapa untuk menjemput ke bandara saja harus berpakaian serapi itu. Teman-teman sekolahnya malah tidak ada yang mengenakan sepatu. Pakai sandal jepit!
Katy jadi sungkan berbicara padanya. Dia mendengar cerita dari orang tuanya bahwa selama setahun ini Vanya jarang berada di Jakarta. Sering bepergian ke kota-kota lain untuk menemani atasannya mengurus perjanjian-perjanjian bisnis. Alhasil pria itu pun seakan lupa mengunjungi rumah Katy. Beramah-tamah seperti dahulu. Tidak datang jika tidak diminta. Malah kedua orang tua Katy mengira Vanya sudah tidak ada hubungan cinta lagi dengannya. Kabar ini semakin memperuncing keingintahuan Katy.
Dia mencoba mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah itu. Tapi sulit bukan main. Satu sisi Katy disibukkan mengurus pelajaran yang harus diulang selama satu tahun ke depan. Di sisi lain Vanya memang sulit diminta waktunya untuk bertemu. Hari ini pergi ke luar kota, dua hari kemudian pulang, besoknya pergi lagi.
Katy sejenak berupaya melupakan ganjalan hatinya. Dia tidak menuntut banyak. Pelajaran sudah mulai menyibukkan hari-harinya. Juga sejumlah tes tambahan sampai malam hari.
Tanpa terasa tiga bulan berlalu. Tok! Tok! Ketukan khas Mbok Nim di pintu kamar Katy yang terkunci rapat. Dua kali ketukan tersebut barulah membangunkan Katy dari lelapnya. Masih pukul enam pagi. Katy memastikan bahwa jam dindingnya memang masih berdetak. Ya, memang benar jam segitu.
Ini hari Minggu. Tidak perlu bergegas bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Semalam dia tidur agak larut. Terlalu asyik mengubah tampilan profil myspace sampai sesuai dengan keinginannya. Juga memasukkan foto-foto baru dari kamera digital. Sampai menulis beberapa blog. Di malam-malam yang lain dia tidak berani tidur larut malam. Gawat kalau sampai mengantuk di kelas. Bisa jadi bahan tertawaan adik-adik kelasnya.
“Non Katy, ditunggu Mas Vanya di bawah,” ucap Mbok Nim kemudian.
Hah! Vanya? Pagi-pagi begini mau apa dia? Tanya Katy dalam hati. Dia masuk ke kamar mandi lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Menyisir rambut lalu mengucirnya. Mengganti baju tidur dengan celana selutut dan mengenakan jaket.
Vanya terlihat duduk di sofa dan memegang sesuatu terbungkus kertas kado mengkilat. Dia berdiri saat melihat Katy menuruni tangga. Aroma parfumnya sudah tercium dari jarak beberapa meter. Dia menyerahkan kado itu sebelum mencium pipi Katy.
“Aku tidak ulang tahun hari ini,” ucap Katy seraya menggeleng tanpa mau menerima pemberian itu. Dia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku jaket.
“Tahun kelima kita. Tidak ingat? Maaf tidak bisa lama-lama. Aku naik penerbangan pertama ke Batam dua jam lagi. Kita masih pacaran, kan?” tanya Vanya dengan alis terangkat.
Katy baru saja mau menjawab tapi diurungkan. Vanya tidak menunggu jawaban apa-apa. Dia langsung mengambil tas yang diletakkan di samping sofa kemudian berjalan meninggalkan rumah Katy. Tidak lama kemudian terdengar mesin mobil dinyalakan lalu suara mesin itu perlahan terdengar menjauh.
Katy menghela nafas. Dia menimang-nimang kado dari Vanya. Nanti saja dia buka. Dia sama sekali tidak terlalu ingin tahu apa isinya. Hanya ingin kembali ke tempat tidur. Bersembunyi di balik selimut sampai matahari tinggi. Katy merentangkan tangan dan menguap lebar. Dia menaiki tangga dengan malas.
Yogya, November 2007
DIarsipkan di bawah: cerita