Pagar
Aku tak meminta apa, hanya talu senja ‘tuk hiasan kepala. Aku tak meminta apa, Mas, sebab diriku telah tersingkir di antara para wanita. Sebab kau aparat negara, telah membuat diriku beroleh harga. Dan aku tidak tega, memisah dirimu dengan wanita yang telah dua dasawarsa menemanimu hanya untuk kenikmatan kita semata. Aku mau kamu tetap kerja, Mas. Tetap berdinas. Memakai seragam lengkap dengan pangkatnya. Dan, saat selangkanganmu rindu mengangkang, pulanglah kepadanya atau kepadaku. Kau tinggal memilih.
Aku tidak memaksamu, Mas. Tak juga membatasimu. Maka jangan juga kau memagariku. Duniaku terlalu luas untuk dipagar, juga terlalu sempit untuk kau diami sendirian. Aku penjual, Mas. Dulu kau adalah salah satu pelanggan setiaku. Aku dituntut untuk selalu tersenyum. Lagipula aku pun suka tersenyum. Sebab senyum adalah alat transaksi. Senyum adalah jembatan dimana kata dan penghormatan berdiri di ujung-ujungnya.
Jangan menangis, Mas. Karena aparat bukanlah banci. Aku mencintaimu, Mas. Aku cinta kamu. Hanya kamu saja yang terlalu sempit mengartikannya. Kau tidak mengerti aku. Aku cinta kamu, bukan berarti aku harus selalu berada di rumah, kan? Aku cinta kamu, bukan berarti aku harus lapor setiap kali aku pergi meninggalkan rumah, kan? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa sepertimu yang melafalkan Satya Bayangkara setiap pagi sehabis mandi dan bersenggama.
Probolinggo, 6 Oktober 2008.
DIarsipkan di bawah: cerita