hello

selamat dateng di web blog yang gak jelas ini :-)
semoga dalam penggunaan bisa temen-temen, sohabat n sohabit semua

peace

7X naik haji gak bisa liat ka’bah

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.

“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.

“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.

“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.

Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.

“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.

“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.

Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

5 Cara Hindari Romantisme Membosankan

5 Cara Hindari Romantisme Membosankan

Apakah Anda pernah memperhatikan berapa banyak orang membiarkan hubungan mereka menjadi basi dan jatuh kedalam kebosanan? Mungkin, Anda berada dalam situasi seperti ini, Keadaan iini akan sangat sulit untuk dipecahkan. Tetapi berikut lima hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari kebosanan dan menjaga romantisme tetap hidup dalam hubungan Anda.

1. Ungkapkan cinta

Selalu katakan pada pasangan Anda bahwa Anda mencintainya. Ungkapan, “aku cinta kamu” ini bukan hanya mengatakan kata-kata saja, juga mengenai cara Anda mengatakannya. Kreatiflah dan ingat bahwa tindakan berbicara akan lebih keras dari kata-kata.

2. Komunikasi

Satu dari cakupan yang paling banyak dibicarakan dalam suatu hubungan adalah komunikasi. Kurang komunikasi akan membunuh hubungan sehingga sangatlah penting untuk menyisihkan setidaknya waktu setiap hari untuk berbicara dengan pasangan Anda. Komunikasi bahkan sangat tidak masalah apakah yang Anda bicarakan, sepanjang Anda membicarakan sesuatu. Segera Anda akan menemukan bahwa Anda memiliki banyak untuk dikatakan.

3. Jujur pada hubungan

Ini mungkin nampak sedikit aneh, karena keuntungannya sangat tidak jelas. Ketika Anda melakukan sesuatu yang salah pada pasangan Anda, tidak masalah apakah mereka pernah mengetahuinya. Kenyataannya, Anda telah melakukan perubahan dan menciptakan jarak antara Anda berdua. Tetapi lakukan sesuatu terhadap pasangan Anda, dan Anda segera akan menemukan diri Anda dalam suatu spiral yang menurun.

4. Jangan terlalu menghakimi pasangan Anda

Sebaliknya dari atas adalah menyadari bahwa setiap orang dapat berbuat kesalahan. Jika pasangan Anda telah melakukan kesalahan, duduk dengan tenang dan lihat apakah itu adalah sesuatu yang Anda dapat lakukan. Terlalu sering dan cepat Anda menyalahkan setiap kesalahan akin menimbulkan reaksi yang mendalam. Reaksi yang mendalam dapat memicu penyesalan dikemudian hari.

5. Tambah sedikit romantisme setiap hari

Menjadi romantis tidaklah sulit dan dapat dilakukan dalam banyak cara. Sangat penting, setidaknya Anda melakukan suatu tindakan romantis setiap hari secara spontan atau dilakukan menurut kreatif dan selera Anda.

Proposal Nikah

Proposal Nikah
KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!

Latar Belakang

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. “Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,” ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga��, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a’lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di� majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur��an dan Al Hadits :

�”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
�Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui�� (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu�� (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14.�Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.” (HR. Baihaqi).
Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah� (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a.�Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b.�Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c.�Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.”
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya��la dan Thabrani).
Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan

Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi

Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ��Man Jadda Wa Jadda�� (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
Termasuk� tathhir (mensucikan diri).
Secara materi, Insya Allah siap. ��Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya��� (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad) dan “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na’udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :

Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu’an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari� manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :

Innamal a’malu binniyat……. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.”(HR. Thabrani).

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama”. (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ��Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya’. “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.

Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo’akan pengantin dengan do’a : Barokallahu laka wa baroka ‘alaikum wa jama’a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (”Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama” – Qs. Al Ahzab (33),

Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS� PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup

“Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan “Jazakumullah Khairan katsiira”. “Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin”

====================================
Dedicated to : My inspiration …. yang pernah singgah dan menghuni “hati” …Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. ” Saat Cinta dan Rindu� tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..”
====================================

penipuan kerja

Hati – hati bila Anda mendapatkan tawaran kerja atau panggilan interview dari salah satu perusahaan yang bisa gue bilang (PT. Ngibal-Ngibul) karena perusahaan tersebut hanyalah penipuan yang berkedok membuka lowongan kerja untuk di jadikan karyawan, dibawah ini.

Berikut adalah nama – namanya :

1. PT ABDI KARYA MANUNGGAL

2. PHAROS INDOMEDICA

3. PT. SANKYO FOODS MANUFACTURING INDONESIA

4. MULTICORELLAB COORPORATIONS

5. PT. KARYA BUANA SEJATERA

6. PT. MULTI DIGITAL SYSTEM

7. M.MANAGMENT AGENCY

8. HRD_WILKINS_BM

9. POLO GROUP

10. PT. ANTIKARAYA NIAGANUSA INDONESIA

11. TORISHIMA MANUFACTURE

12. PT. ABDI CIPTA INDONESIA

13. ERA GUNA PROPERTY

14. PT. MAS JAYA PERTIWI

15. PT. PERMATA CITRA BUANA

16. PT.GARAMOND OMEGA STEEL

17. CIPTA RASA MANUNGGAL, PT

18. PT. PRIMA CITRA ENTERTAINMENT

19. PT. ESTETIKA ARTA MANDIRI

20. PT. BANGUN CIPTA KONTRAKTOR

21. PT MEGAH KIRANA PRATAMA

22. PT. PERMATA CITRA BUANA

23. PT. PERMATA CITRA BUANA

24. PT. YAMAJI OTSUKA PHARMACY

25. PT.MAXGAIN

26. PT.EGA GROUP

27. PT.HARJAYA GROUP

28. NOMURA INTERNUSA

29. PT.GRAHA FINESA BERJANGKA ( GFB )

30. PT.APPCO DIRRECT

31. PT.GRANTON ADVERTISING

32. PT.SOLID GOLD BERJANGKA

33. PT.TRIJAYA PRATAMA

34. PT.INTER PAN PASIFIK

35. PT.TRIPAR MULTIVISION

36. PT.MJ NETWORK

37. MANDIRI GROUP DI PLAZA BENHILL

38. PT KASABA DI ARTHALOKA PLAZA

39. MAHETZA GROUP DI WISMA BUMIPUTERA LT. 18

40. MITRA UTAMA GLOBAL GED.IDX

41. PT GALAXINDO MANDIRI MITRA UTAMA (PT GMMU) GROUP (PT. GALAXINDO/GATRAMA/MANDIRI UTAMA/GAMA)

42. PT. CIPTA SARANA DI PONDOK KELAPA JAKARTA TIMUR.

43. PT GAMA TEX/ GATMA TEXTILINDO

44. PT GMPK KARYA/PETNOSTARA GASINDO ATAU PT GMP KARYA GROUP/ PT GAMA PRIMA KARYA

45. PT GATMA HOTEL

46. PT BAHTERA OKTA MANDIRI

47. PT HARJAYA GROUP

48. BATAVIA FUTURES

49. HARUM DANA BERJANGKA

50. VALBURY FUTURES

51. FORTUNE CHANNEL

52. MAXCO FUTURES

53. DEA U TRADE

54. PT. EKSPRESINDO GLOBAL ARTHA JL. GATOT SUBROTO GEDUNG PATRAJASA LT. 1 KAV. 32-34

55. PT PLATINUM BERJAMGKA

56. PT EKSPRESSINDO GLOBAL ARTHA

57. NISMA EXIS JAYA DIRUKO MUTIARA PONDOK CABE

58. PT NOMURA INTERNUSA PRIMA

59. PT GALAXINDO MANDIRI MITRA UTAMA GROUP (GMMU/ GATRAMA),CATATAN:NAMA PT INI BISA GANTI2 BISA PT. GALAXINDO / GATRAMA / MANDIRI UTAMA GRUOP / GAMA / GALAXI INDO GROUP, DLL

60. PT MAM (MAHETZA)

61. PT KASABA INDONESIA GROUP (PT. KARUNIA SURYA ABADI)

62. PT GAMA TEX/ GATMA TEXTILINDO

63. PT GMPK KARYA/PETNOSTARA GASINDO ATAU PT GMP KARYA GROUP/ PT GAMA PRIMA KARYA

64. PT GATMA HOTEL

65. PT HARJAYA GROUP

66. PT. MITRA UTAMA GLOBAL

67. PT. MAXGAIN

68. PT. MIX INTERNASIONAL

69. PT. MIF

70. PT. MGI

71. PT. MXI

72. PT. BPF

73. PT. GFB

74. PT. MIF

75. PT. DIB

Buat temen yang lagi nyari kerja, di sarankan agar WASPADALAH!! WASPADALAH!! Ingat kata bang napi : kejahatan terjadi bukan hanya dari niat si pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan.

NB :

Sekedar nambahin aja, tips supaya kita tidak terjebak oleh PT. ngibal-ngibul :

  1. perusahaan-perusahaan ini ngedapetin data calon pegawainya dari database web bursa kerja di Internet, so jangan pernah kita ninggalin data-data kita di situs pencari kerja.
  2. di koran-koran banyak banget iklan lowongan kerja yang tidak mencantumkan nama perusahaan & alamat jelas dengan seabrek-abrek posisi, yang ada cuma nama PO BOX doang. Berdasarkan pengalaman beberapa teman – teman, perusahaan itu termasuk dalam kategori PT. ngibal-ngibul.
  3. umumnya panggilan resmi untuk interview via telephon, sekitar jam 12 siang sampai dengan jam 2 siang (jam kantor), so jangan pernah tanggapi panggilan untuk interview atas jam 2 siang apalagi panggilan untuk interview via sms.
  4. kebanyakan lokasi PT. ngibal-ngibul beralamat di gedung sarinah Thamrin, jalan soedirman
  5. apabila kita dapat panggilan kerja, jangan sungkan-sungkan buka google sekedar untuk men-cek nama perusahan yang di curigai sebagai PT. ngibal-ngibul.
  6. jangan pernah mengirimkan CV lewat (Hrd, … personalia, … dll) @ (yahoo, gmail, dll) .com via email, yang benar adalah (Hrd atau personalia) @ (nama perusahaan atau situs perusahaan). com

Putri

Putri

Ketika Putri mendadak memutuskan cintanya, Chip Adhitya berubah jadi pemurung. Dan ketika gadis pujaannya itu menikah diam-diam di Surabaya, Chip Adhitya betul-betul frustrasi. Dia tak mau makan-minum sehingga akhirnya terkena tifus Betapa ironis, ketika mantan kekasihnya tengah menikmati bulan madu di Bali, dia justru terbaring di rumah sakit Lalu… apakah yang dapat dilakukan seorang ayah untuk menghibur anak lelakinya yang patah hati? Untuk membangkitkan kembali semangat juangnya yang hampir mati? Chip Adhitya adalah anak yang cemerlang. Sejak kecil dia selalu jadi bintang kelas. Namun, anak itu pendiam dan perasa.

“Kamu betul-betul menuruni darah Ayah. Selalu serius, mendalam, dan penuh ketulusan kalau mencintai perempuan. Sehingga, kalau putus cinta betul-betul terpuruk. Padahal, seperti kata peribahasa, dunia ini tidak sedaun kelor. Di dunia ini begitu banyak wanita, Nak,” ujarku saat berbicara dari hati ke hati sepulangnya ia dari rumah sakit.

“Tapi tidak ada yang secantik dan sebaik Putri, Yah. Dia yang dulunya tak pakai kerudung, kini mulai belajar pakai kerudung. Tapi kenapa ketika keislamannya semakin sempurna, kok dia tega meninggalkan saya dan menikah dengan manajer perusahaan elektronik itu?”

“Sudahlah, Nak. Sesuatu yang lepas dari tangan kita memang selalu kelihatan indah. Begitu pula kalau kita kehilangan perempuan yang kita cintai. Mata kita tertutup bahwa di sekeliling kita masih banyak perempuan lain yang mungkin lebih baik dari dia.”

“Aku baru sekali ini jatuh cinta, Yah. Selama SMU dan kuliah, waktuku lebih banyak aku habiskan untuk belajar, dan organisasi ilmiah di kampus.”

“Ayah paham, Nak. Ayah mau buka rahasia. Sewaktu SMU dulu Ayah mengalami nasib yang mirip kamu. Cinta tak kesampaian, padahal Ayah dan Rini, nama perempuan itu, sama-sama saling mencintai. Bertahun-tahun Ayah nyaris frustrasi dan tak pernah mampu menghilangkan bayang wajahnya. Sampai kemudian, lima tahun setelah itu, Tuhan mempertemukan Ayah dengan ibumu. Dia wanita tercantik di Cianjur ketika itu. Baru lulus SMU. Banyak sekali pemuda yang mengincar ibumu. Entahlah, kenapa dia mau menikah dengan Ayah yang ketika itu masih berstatus mahasiswa dan belum punya pekerjaan, kecuali menjadi penulis free lance di koran. Kami menikah hanya dua minggu sejak pertama kali bertemu.” Chip Adhitya termenung. Mungkin ia merenungkan kalimat demi kalimat yang tadi aku ucapkan.

“Nak, laki-laki itu ibarat buah kelapa. Makin tua, makin bersantan. Biarpun jelek, botak dan gendut, kalau punya kedudukan, berharta, dan terkenal, maka gadis-gadis muda antri untuk mendapatkannya. Untuk sekadar jadi teman kencan maupun istri sungguhan.”

“Benarkah?”

“Ya. Dengan modal hanya sebagai wartawan senior dan novelis top saja, Ayahmu ini seringkali digilai oleh perempuan-perempuan muda. Mereka berusaha mencuri perhatian Ayah dengan berbagai cara. Kalau Ayah tidak kuat iman, Ayah mungkin sering kencan dengan banyak perempuan. Kalau Ayah kurang sabar, Ayah mungkin beristri dua, tiga, atau bahkan empat.”

“Apa yang membuat Ayah bertahan dengan Ibu?”

“Dia perempuan yang hebat. Kesabaran, ketulusan, kehangatan dan kasih sayangnya luar biasa. Hal itu telah ditunjukkannya saat Ayah masih belum punya apa-apa, belum diperhitungkan orang, bahkan dilirik sebelah mata pun tidak. Kami menikah dalam keadaan miskin. Bahkan cincin kawin untuk ibumu baru Ayah belikan lima tahun setelah pernikahan.Tahun-tahun pertama pernikahan, kami sering makan hanya nasi dan garam saja. Namun tak pernah sekalipun Ayah mendengar ibumu mengeluh atau menunjukkan air muka masam. Sebaliknya, Beliau selalu berusaha membesarkan hati Ayah. Bahwa Ayah punya potensi. Bahwa Ayah suatu hari nanti akan jadi orang hebat di bidang sastra maupun jurnalistik. Dua puluh delapan tahun perkawinan dengan ibumu sungguh merupakan perjalanan hidup yang amat berarti bagi Ayah. Itulah yang membuat Ayah tak pernah mau berpaling kepada perempuan lain. Rasanya sungguh tak adil, setelah menjadi orang yang terkenal dan punya uang, Ayah lalu mencari perempuan lain untuk membagi cinta ataupun sekadar bersenang-senang.”

“Ayah beruntung mendapatkan perempuan sebaik ibu. Tapi aku? Satu-satunya perempuan yang aku cintai kini telah pergi.”

“Jangan menyerah dulu, Nak. Cuti doktermu ‘kan masih tiga hari lagi. Bagaimana kalau besok Ayah ajak kau jalan-jalan keliling Jakarta? Kita santai dan cari makan yang enak. Siapa tahu kamu bisa melupakan Putri-mu dan mendapatkan pengganti yang lebih baik.”Chip Adhitya tidak langsung menjawab.

“Ayolah, Nak. Ayah yang akan jadi sopirmu. Kau tinggal duduk di jok depan. Oke?” Lama baru Chip Adhitya mengangguk.

“Baiklah, Ibu ikut?”

“Tidak. Ini urusan laki-laki, Nak,” sahutku seraya tertawa. Hari pertama aku mengajak Chip Adhitya berkeliling Mal Pondok Indah.

Mal yang terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu selalu ramai dikunjungi orang-orang berduit. Hanya dalam hitungan jam kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan perempuan muda, cantik dan seksi, keluar masuk mal. Umumnya mereka mengenakan pakaian yang menonjolkan lekuk-lekuk fisiknya, seperti dada, udel, pantat, paha, ketiak dan punggungnya.

Seusai Maghrib aku mengajak Chip Adhitya nonton film di Kartika Chandra 21 yang terletak kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, tepatnya Jalan Gatot Subroto. Di sini banyak sekali pasangan yang datang menonton. Umumnya perempuan-perempuannya mengenakan gaun malam yang seksi dan terbuka.

Banyak juga yang memakai rok mini ataupun celana blue jean ketat di bawah pinggang sehingga sering kali memperlihatkan celana dalam pemakainya. Hari kedua aku mengajak Chip Adhitya pergi ke kantor sebuah bank syariah.

“Ayah mau setor tabungan dulu sekaligus mau buka rekening khusus zakat. Mau ikut masuk?” Chip Adhitya mulanya enggan.

“Ayolah.” Akhirnya ia mau juga ikut. Kami menemui salah seorang customer service officer. Laili namanya.

“Assalaamu’alaikum, Pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?” suaranya bening dan terkesan manja, namun tidak dibuat-buat. Balutan jilbab coklat itu tak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai dan wajah selembut kabut.

“Wa’alaikumsalaam, Mbak Laili. Saya ingin membuka rekening khusus untuk zakat. Oh, ya, kenalkan ini anak sulung saya. Chip Adhitya. Chip Adhitya, ini Mbak Laili.”

“Assalaamu’alaikum, Mas Chip Adhitya.”

“Wa’alaikumsalaam, Mbak Laili.”

“Chip Adhitya kerja di gedung ini juga, Mbak Laili. Lantai 12.”

“Oh, ya?” Laili agak terkejut.

“Kalian pasti enggak pernah bertemu ‘kan? Inilah penyakit zaman modern, orang-orang berkantor di satu gedung tapi bisa bertahun-tahun tak pernah berjumpa,” kataku sambil tertawa. Bibir tipis Laili mengukir segurat senyum.

“Soalnya Mas Chip Adhitya enggak pernah buka tabungan di bank syariah. Duitnya disimpan di bank konvensional semua ya?”

Laili punya selera humor yang bagus. Kulihat Chip Adhitya tersenyum kecil.

“Insya Allah saya akan buka rekening di bank syariah, Mbak.” Keluar dari bank syariah itu, aku mengajak Chip Adhitya menghadiri pameran buku Islam di Istora Senayan Jakarta. Pameran yang menampilkan puluhan penerbit Islam itu setiap hari dihadiri oleh puluhan ribu orang. Berbeda dengan pemandangan di Mal Pondok Indah dan KC-21, di sini kebanyakan perempuan muda yang datang mengenakan jilbab. Wajah mereka kelihatan bersih dan matanya lebih suka menunduk ketimbang jelalatan mencari perhatian lelaki.

Seusai menonton pameran buku, aku mengajak Chip Adhitya mampir di Hotel Gran Melia, yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Kami memesan es lemon tea dan pisang goreng keju.

“Oke. Mari kita bahas perjalanan dua hari kita. Kamu masih ingat perempuan-perempuan muda di Mal Pondok Indah dan KC-21 kemarin?” Dia cuma mengangguk.

“Wanita-wanita seperti itu menyenangkan untuk dilihat dan dibawa ke pesta-pesta, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Sebaliknya perempuan-perempuan muda berjilbab yang kita saksikan di pameran buku Islam dan bank syariah tadi, mereka lebih mungkin membuatmu menjadi seorang lelaki yang dihargai dan meraih kebahagiaan sejati. Ayah yakin, di antara mereka itu pasti ada perempuan impian.”

“Seperti apakah perempuan impian itu, Yah?” Aku menyeruput es lemon tea yang tinggal separoh.

Kemudian mencomot sepotong pisang goreng keju. Chip Adhitya menunggu dengan tidak sabar.

“Seperti apa, Yah?”

“Kalau kamu bertemu dengan seorang perempuan yang berpadu pada dirinya kehangatan seorang Siti Khadijah, serta kemanjaan dan kecerdasan seorang Siti Aisyah dua di antara istri-istri Rasulullah itulah perempuan impian.”

“Seandainya aku menjumpai perempuan yang seperti itu, apa yang harus aku lakukan?”

“Jangan tunggu esok atau lusa. Telepon Ayah saat itu juga. Ayah akan segera melamarkannya untukmu, dan kau harus menikah dengannya paling lambat seminggu setelah itu. Jika kamu mendapatkan perempuan seperti itu dalam hidupmu, dunia ini kecil dan nyaris tak berarti. Rasul pernah berkata, bahwa seorang perempuan yang salehah lebih berharga dari dunia ini beserta isinya.”

Seminggu kemudian. Aku tengah menulis sebuah ficer tentang pengoperasian bus way di Jakarta ketika HP-ku berdering.

Dari Chip Adhitya:

“Ayah, aku sudah dapatkan calon istri. Seorang wanita salehah yang bisa membuatku hidup bahagia.” Suaranya terdengar bersemangat.

“Oh, ya, siapa namanya?”

“Nantilah Ayah akan aku kenalkan.”

Berselang lima menit kemudian, Yanti, staf humas bank syariah menelepon. “Assalaamu’alaikum, Pak Irwan. Tadi Chip Adhitya buka rekening di bank syariah. Dia mengobrol cukup lama dengan salah seorang customer service officer kami. Bapak pasti tahu yang saya maksudkan.”

Aku menutup Nokia 9500 itu. Lalu memandang ke luar jendela kantor.

“Alhamdulillah. Akhirnya kau temukan perempuan impianmu, Nak.”

Kota Kelamin

Kota Kelamin


Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.

Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.

Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang.

Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya.

Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah.

Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari.

Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari.

Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia.

Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi.

Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.

***

Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding.

Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri.

Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku.

Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor.

Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap.

Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin.

Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini?

Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megap-megap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata.

Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu.

Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu.

Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku.

Di sini!

Kaukah itu?

Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang.

Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Kini kami bersenggama di tengah kota. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Ia menggigit seluruh tubuhku. Seperti anak anjing, aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Aku mengerti sekarang, kelamin pun punya hati. ***

tanpa kepastian

Tanpa kepastian

Katy mengeluarkan HP dari dalam tas tangannya. Hanya dengan menekan satu tombol otomatis terhubung pada nomer seseorang. Calling. Nada sambung mulai terdengar kemudian. Bibirnya berkomat-kamit tak kalah gencar dengan suara statis yang sudah beberapa kali tak kunjung terhenti.

Bangunlah, Vanya! Pesawat akan berangkat! Sebentar lagi aku pergi. Kamu di mana? Kenapa panggilanku tidak kamu jawab sama sekali? Bukankah semalam kamu janji akan bangun pagi-pagi dan hadir mengantarkan kepergianku?

Katy menggigit bibir. Kesal juga rasanya. Sudah nada panggil terakhir. Hening yang dia dengar sekarang. Ia menenteng jaket tebalnya di tangan kiri. Tangan kanan tidak pernah lepas dari ponsel. Sejak tadi hanya menghubungi nomer yang sama. Sedih karena kepergiannya tidak hanya keluar kota dan tidak sebentar. Dia adalah siswa pertukaran pelajar satu tahun di Moskow. Jauh dari Vanya selama itu betapa beratnya.

Vanya, kuharap kau terjaga, jika memang kamu masih terlelap di atas bantal empukmu. Bukalah kedua mata jernihmu yang selalu membuatku tenang di tengah resah tak pastiku.

Katy mengedarkan pandangan ke sekitar pintu keberangkatan. Di tengah keramaian seperti ini sulit sekali menangkap sosok Vanya jika memang dia telah berada ada di sana. Pacarnya tidak sejangkung bapak kepala sekolah sampai bisa terlihat dari kejauhan. Pakaian yang biasa dikenakannya pun tidak pernah berwarna cerah.

Sepuluh menit kemudian Katy terkejut sendiri ketika Motorola RAZR-nya bergetar panjang-panjang. Vanya! Tertera gambar laki-laki berdagu belah itu di LCD. Tidak perlu menunggu getaran berikutnya langsung dijawab.

“Hey,” sapa Katy lega bercampur dan kesal.

“Hai,” jawab suara tenang di seberang.

“Vanya, pagi ini aku berangkat. Sebentar lagi aku harus masuk ke ruang tunggu. Kamu di mana?” Tanya Katy seraya melihat jam tangan.

“Aku tadi ada urusan. Jalanan macet! Mungkin aku tidak akan sampai ke sana dalam waktu setengah jam. Maaf, sayang. Kamu tidak apa-apa kan?” Vanya memastikan seolah Katy akan ngambek.

Katy menundukkan kepala. Menatap sepatu converse biru pemberian Vanya dengan lesu. Sudah diduga jika hal ini akan terjadi. Tidak perlu terkejut. Begitulah Vanya. Hal yang dianggap penting oleh Katy justru sepele di mata sang pacar. Susah memberi pengertian padanya.

“Ya sudah. Aku harus masuk ke ruang tunggu sekarang. Kutelfon begitu pesawat mendarat di Changi. Oya, Aku bawa jaket kembar kita. Kamu masih ingat, kan? Tapi ini tidak akan cukup. Aku mau beli jaket yang lebih tebal lagi begitu tiba di Moskow.”

“Semoga perjalananmu menyenangkan, Sayang. HP-ku low bat. Pulsaku juga sebentar lagi habis. Jangan lupa segera cari warnet terdekat saat kamu tiba di sana. Bye, Say!”

Klik! Hubungan telfon diakhiri sebelum Katy mengatakan sesuatu. Susah sekali mengubah karakter Vanya agar bisa lebih hangat. Paling tidak untuk memahami dan menghibur Katy agar tidak terlalu sedih. Ternyata usia tidak menentukan kedewasaan seseorang. Boby, mantan pacarnya yang setahun lebih muda, sangat pengertian soal perasaan perempuan. Meskipun itu jadi indikasi utama seorang playboy. Memang tidak ada manusia sempurna.

Vanya berkenalan dengan Katy empat tahun lalu. Masih terhitung kerabat jauh, kata orangtua Katy. Vanya duduk di kelas dua SMU sementara Katy kelas satu SMP. Keduanya bertemu di salah satu acara keluarga. Momen dimana semua anggota keluarga besar berkumpul merayakan hari raya. Vanya tampak hanya menyendiri karena tidak menemukan teman sebaya. Kemudian dia melihat Katy baru saja turun dari mobil bersama kedua orangtuanya. Dia sedikit lega karena bisa menemukan teman bicara. Singkat cerita, keduanya pun berkenalan. Jalan. Pacaran.

Sebenarnya seperti bukan pacaran. Katy tidak pernah menghabiskan malam minggu bersama Vanya. Pacarnya siaran sejak pukul delapan malam sampai dua belas malam di sebuah stasiun radio swasta. Hari Minggu Vanya magang di sebuah TV kabel sebagai asisten produser sebuah program acara anak-anak. Alhasil Katy harus rela membiarkan dirinya hanya berdiam di rumah dan menghabiskan waktu menonton acara TV. Memang sejak pertama itu menjenuhkan. Sampai sekarang pun begitu. Tapi dia tidak bisa menuntut banyak. Vanya memang gila kerja.

Pesawat yang ditumpangi Katy tidak bisa berangkat dari Changi. Tertunda hampir dua jam. Cuaca di Singapura tidak begitu bagus. Ditambah lagi ternyata cuaca di Moskow kembali memburuk. Terminal kedatangan dan keberangkatan ditutup tanpa terkecuali. Katy menatap rombongan yang berangkat menemaninya. Ada tujuh orang. Perwakilan dari pihak sekolah Katy. Seorang jurnalis, dan wakil dari pihak sekolah di Moskow yang menyelenggarakan pertukaran pelajar tersebut. Mereka tidak terlihat kesal dengan penundaan itu. Malah berencana jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.

Katy memilih tinggal di hotel. Dipinjamnya laptop sang jurnalis untuk mempergunakan jasa internet gratis. Semoga Vanya online. Harapnya. Dia mencari ID Vanya di daftar messenger. Di urutan paling bawah. Ah, dia offline. Katy mencoba menghubungi lewat ponsel tapi sulit terhubung dengan nomer yang dia tuju. Pasti sedang kerja, tebaknya dengan nada positif. Atau sedang berada di suatu tempat bersama seseorang? Katy mengutuk pikirannya sendiri. Kecemburuannya tidak berdasar. Vanya sangat tidak suka jika dia mulai bersikap kekanak-kanakan. Memang selama ini Vanya tidak pernah macam-macam, justru Katy yang pernah tergoda oleh yang lain. Meski akhirnya dia memutuskan kembali ke jalan yang benar.

Vanya memang lebih banyak diam. Tapi tetap saja Katy merindukannya. Sosok itu tipikal laki-laki tenang. Tapi dia bisa marah jika sesuatu terlalu mengusiknya. Terlihat di sinar matanya. Terbaca dalam ucapannya. Tapi tangannya tidak pernah jadi ringan. Vanya tetap sosok santun dan menyenangkan. Sampai kemarahannya reda dengan sendirinya.

Pada awalnya sulit membayangkan jauh dari Vanya selama setahun. Berada di kota yang segalanya serba berbeda dengan kondisi di Jakarta. Musim berganti sampai empat kali. Kadang-kadang esktrim saat musim dingin dengan salju yang menebal di jalanan dan keringat pun mengalir terus-menerus saat musim panas bergulir. Belum lagi beradaptasi dengan kebiasaan dan bahasa orang-orang sana. Tapi ternyata lambat laun Katy bisa melalui rintangan-rintangan itu. Teman-teman sekolahnya mulai bisa berinteraksi dengannya. Beberapa kebiasaan pun diikuti. Salah satunya minum Vodka dengan bebas.

Kebiasaan buruk itu otomatis berhenti begitu masa pertukaran pelajar telah selesai dijalani. Saatnya kembali ke tanah air dan menjadi dirinya sendiri. Meski ditawari gratis Katy bertekad tidak akan menyentuh minuman beralkohol jenis apa saja. Tinggi atau rendah kadar alkoholnya tetap saja bisa merusak hidupnya kelak.

Kedatangan Katy dinantikan oleh orang-orang terdekatnya. Mereka bergantian memeluk dan mengusap-usap kepalanya. Dia terharu dan tidak sanggup menahan air matanya. Setahun sudah banyak yang berubah. Ada mal-mal baru yang berdiri dengan gagah di pinggir jalan. Kemacetan sepertinya semakin parah. Itu memang bukan perubahan. Rambut putih di kepala ayahnya pun nampaknya semakin banyak saja. Katy melirik Vanya.

Pacarnya kini sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perkantoran. Rambutnya dipotong pendek dan dilumuri gel. Kelimis seperti layaknya pegawai kantor. Sebuah kacamata tipis menyangkut di batang hidungnya yang tidak begitu tinggi. Pakaiannya pun kini kemeja dan celana kain. Katy tidak habis mengerti mengapa untuk menjemput ke bandara saja harus berpakaian serapi itu. Teman-teman sekolahnya malah tidak ada yang mengenakan sepatu. Pakai sandal jepit!

Katy jadi sungkan berbicara padanya. Dia mendengar cerita dari orang tuanya bahwa selama setahun ini Vanya jarang berada di Jakarta. Sering bepergian ke kota-kota lain untuk menemani atasannya mengurus perjanjian-perjanjian bisnis. Alhasil pria itu pun seakan lupa mengunjungi rumah Katy. Beramah-tamah seperti dahulu. Tidak datang jika tidak diminta. Malah kedua orang tua Katy mengira Vanya sudah tidak ada hubungan cinta lagi dengannya. Kabar ini semakin memperuncing keingintahuan Katy.

Dia mencoba mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah itu. Tapi sulit bukan main. Satu sisi Katy disibukkan mengurus pelajaran yang harus diulang selama satu tahun ke depan. Di sisi lain Vanya memang sulit diminta waktunya untuk bertemu. Hari ini pergi ke luar kota, dua hari kemudian pulang, besoknya pergi lagi.

Katy sejenak berupaya melupakan ganjalan hatinya. Dia tidak menuntut banyak. Pelajaran sudah mulai menyibukkan hari-harinya. Juga sejumlah tes tambahan sampai malam hari.

Tanpa terasa tiga bulan berlalu. Tok! Tok! Ketukan khas Mbok Nim di pintu kamar Katy yang terkunci rapat. Dua kali ketukan tersebut barulah membangunkan Katy dari lelapnya. Masih pukul enam pagi. Katy memastikan bahwa jam dindingnya memang masih berdetak. Ya, memang benar jam segitu.

Ini hari Minggu. Tidak perlu bergegas bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Semalam dia tidur agak larut. Terlalu asyik mengubah tampilan profil myspace sampai sesuai dengan keinginannya. Juga memasukkan foto-foto baru dari kamera digital. Sampai menulis beberapa blog. Di malam-malam yang lain dia tidak berani tidur larut malam. Gawat kalau sampai mengantuk di kelas. Bisa jadi bahan tertawaan adik-adik kelasnya.

“Non Katy, ditunggu Mas Vanya di bawah,” ucap Mbok Nim kemudian.

Hah! Vanya? Pagi-pagi begini mau apa dia? Tanya Katy dalam hati. Dia masuk ke kamar mandi lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Menyisir rambut lalu mengucirnya. Mengganti baju tidur dengan celana selutut dan mengenakan jaket.

Vanya terlihat duduk di sofa dan memegang sesuatu terbungkus kertas kado mengkilat. Dia berdiri saat melihat Katy menuruni tangga. Aroma parfumnya sudah tercium dari jarak beberapa meter. Dia menyerahkan kado itu sebelum mencium pipi Katy.

“Aku tidak ulang tahun hari ini,” ucap Katy seraya menggeleng tanpa mau menerima pemberian itu. Dia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku jaket.

“Tahun kelima kita. Tidak ingat? Maaf tidak bisa lama-lama. Aku naik penerbangan pertama ke Batam dua jam lagi. Kita masih pacaran, kan?” tanya Vanya dengan alis terangkat.

Katy baru saja mau menjawab tapi diurungkan. Vanya tidak menunggu jawaban apa-apa. Dia langsung mengambil tas yang diletakkan di samping sofa kemudian berjalan meninggalkan rumah Katy. Tidak lama kemudian terdengar mesin mobil dinyalakan lalu suara mesin itu perlahan terdengar menjauh.

Katy menghela nafas. Dia menimang-nimang kado dari Vanya. Nanti saja dia buka. Dia sama sekali tidak terlalu ingin tahu apa isinya. Hanya ingin kembali ke tempat tidur. Bersembunyi di balik selimut sampai matahari tinggi. Katy merentangkan tangan dan menguap lebar. Dia menaiki tangga dengan malas.

Yogya, November 2007

Sekarang Saat untuk Mengerti

Sekarang Saat untuk Mengerti

Homo Homini Lupus, tidak……, tidak……, aku tidak setuju dengan Sigmund Freud. Bagiku wanita adalah keindahan, bagiku wanita adalah kehidupan, bagiku wanita adalah kenangan tak terlupakan. Dan manusia saling membutuhkan, tidak untuk saling memakan.

Kuhisap rokokku dalam2, tinggal sebatang…….sialan….dompet pun sudah menipis. Pandanganku menerawang, seolah mau menembus segala yang ada di depanku, menembus batas2 budaya, menembus batas2 negara, menembus segala batas yang tidak perlu dan tidak rasional.

Hanum, ya Hanum nama gadis cantik itu. Nama itu berarti muda, dan memang aku tidak percaya kalau dia akan beranjak tua, kulitnya yang halus dan putih bersih, oh dewi mana yang mampu menandinginya. Gadis yang ke………, mmhhhhhh, aku tak tahu lagi, yang aku tahu dia adalah gadis yang sempurna, gadis terakhir yang aku tinggalkan.

Kuambil gitar tua di sudut jendela kamarku, kamar yang menghadap hutan belantara, yang selalu mengingatkanku akan jauhnya perjalanan yang harus masih kutempuh, harus……harus…….harus……..ya itu memang keharusan. Hatiku mengatakan demikian.

Kupetik pelan2 dan kunyanyikan lagu Country Road, take me home….take me home……to the place I belong….

“Mas, jangan tinggalkan aku sendiri, aku tidak punya siapa-siapa selain Mas”. Hanum menangis, air mata beningnya mengalir di pipinya yang selembut sutra, lebih lembut lagi kukira.

Aku memandangi wajahnya, lidahku kelu, serasa berton2 es menempel di lidahku, aku kedinginan di panasnya summer. Kupeluk dia,mmmmhhhhh, aku tak tahu, benar2 tak tahu, apa yang musti kulakukan, apa yang harus kukatakan. Aku masih mencintainya, tapi aku harus pergi, menjemput impian2ku selama ini, mencoba mengisi otakku dengan hal yang lebih berguna.

Untuk Affirmative Action, Social Responsibility, untuk manusia dan kemanusiannya…………

I can’t blame anyone for this situation, tapi aku tidak bisa berbuat apa2. Lauh Mahfudh sudah terbuka dan siap dibaca, dan aku hanya bisa bernafas menerimanya. Menyalahkan wanita2 yang meninggalkanku ataupun yang aku tinggalkan, tidak mungkin, mbrebes mili mereka meninggalkanku, remuk redam mereka aku tinggalkan. Menyalahkan Tuhan, I don’t even believe in God, bagiku Tuhan hanyalah khayalan yang dilembagakan, lembaga yang disucikan.

Aku lahir di sebuah keluarga Katolik yang taat, tapi otakku sejak kecil tak mau dihibernasi oleh Trinitas yang membingungkan itu. Dan kemudian kupelajari Islam, Hindu, Budha, KongHuchu, mmmhhhhhh, tidak ada yang mampu menampung segala kesah dunia. Mungkin Muhammad benar, Addiin huwa al-aqlu, agama itu akalmu. Mungkin Budha benar, sukamasotta, bahagia itu diciptakan oleh manusia sendiri, bukan anugrah Tuhan.

Mmmmmhhhhh, kerinduanku pada Hanum membara lagi, hatiku telah terlukis namanya mungkin, di antara wanita2 yang datang pergi, hanya dia yang kurindukan, hanya cintanya yang masih membuatku insomnia mendadak, hanya suaranya yang mampu menentramkan hatiku yang kalut.

pagar

Pagar

Aku tak meminta apa, hanya talu senja ‘tuk hiasan kepala. Aku tak meminta apa, Mas, sebab diriku telah tersingkir di antara para wanita. Sebab kau aparat negara, telah membuat diriku beroleh harga. Dan aku tidak tega, memisah dirimu dengan wanita yang telah dua dasawarsa menemanimu hanya untuk kenikmatan kita semata. Aku mau kamu tetap kerja, Mas. Tetap berdinas. Memakai seragam lengkap dengan pangkatnya. Dan, saat selangkanganmu rindu mengangkang, pulanglah kepadanya atau kepadaku. Kau tinggal memilih.

Aku tidak memaksamu, Mas. Tak juga membatasimu. Maka jangan juga kau memagariku. Duniaku terlalu luas untuk dipagar, juga terlalu sempit untuk kau diami sendirian. Aku penjual, Mas. Dulu kau adalah salah satu pelanggan setiaku. Aku dituntut untuk selalu tersenyum. Lagipula aku pun suka tersenyum. Sebab senyum adalah alat transaksi. Senyum adalah jembatan dimana kata dan penghormatan berdiri di ujung-ujungnya.

Jangan menangis, Mas. Karena aparat bukanlah banci. Aku mencintaimu, Mas. Aku cinta kamu. Hanya kamu saja yang terlalu sempit mengartikannya. Kau tidak mengerti aku. Aku cinta kamu, bukan berarti aku harus selalu berada di rumah, kan? Aku cinta kamu, bukan berarti aku harus lapor setiap kali aku pergi meninggalkan rumah, kan? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa sepertimu yang melafalkan Satya Bayangkara setiap pagi sehabis mandi dan bersenggama.

Probolinggo, 6 Oktober 2008.

Ketika Hawa tidak mencintai Adam

Ketika Hawa tidak mencintai Adam

kutinggalkan Indonesia, negeri indah penuh bajingan itu. Bajingan yang bisa berkamuflase, dalam segala bentuk dan suasana. Terbang menuju negeri baru yang mungkin akan memberikan nasib lebih baik bagiku. Posisiku sudah cukup lumayan di rumah sakit tempat aku bekerja, cukup kalau hanya sekedar menghidupi diriku sendiri, tapi untuk menghidupi keluarga, apalagi untuk menghidupi anak2ku nanti, aku tidak tahu. Setelah kupikir lama dan atas persetujuan keluarga, akhirnya aku berangkat juga. Hanya saja ada torehan luka yang tersayat menjelang saat2 keberangkatanku, tunanganku memutuskan untuk tidak memberikan lagi curahan cintanya kepadaku, jarak yang terlalu jauh katanya, alasan klise yang membuat hatiku hancur, perjuanganku selama ini ternyata sia2, pengorbananku terhadapnya terlempar begitu saja. Tapi aku hanya bisa menangis, sampai kacamataku harus rela basah oleh deritaku. Memalukan mungkin, bagaimana mungkin aku menangis di saat usiaku yang sudah menjelang kepala tiga.

Tertatih2 di negeri baru, aku tidak perduli, hidup kuanggap sebagai permainan judi, kalah dan menang adalah keniscayaan. Kehidupan baruku terisi dengan kerja dan kerja, profesi perawat di sini ternyata tidak semudah di Indonesia, aku harus mengurus orang2 tua yang praktis sudah tidak bisa apa-apa, orang2 tua yang sudah tidak diurus oleh anak2nya,

yang hanya didatangi jika mereka sudah mati, hanya demi mendapatkan beberapa dari peninggalannya yang masih berarti.

Aku pun bisa menabung, penghasilan yang kudapatkan jelas jauh lebih besar daripada yang kudapatkan di Indonesia, tak lupa setiap bulan aku akan mengirim sebagian ke keluargaku dan sebagian lagi aku sumbangkan untuk pembangunan masjid di RW-ku yang setahuku sejak aku masih SMP sudah mulai dilakukan pembangunan dan sampai sekarang belum selesai. Keluargaku begitu bahagia, itu terlihat dari surat2 yang mereka kirimkan, tak lupa juga ada salam dari ketua RW segala, yang sangat berterima kasih telah menyelamatkannya dari coreng moreng cemooh atas tertunda2nya pembangunan masjid itu.

1 tahun berlalu……………………..

Queen’s Day, Koningin Dag, orang sini bilang. Semua orang keluar dari rumah, merayakan hari kelahiran ratu. Dan hari ini telah tertradisikan menjadi sebuah pasar terbuka di seluruh pelosok negeri, semua barang2 rumah yang sudah jarang dipakai ataupun sudah tidak dipakai akan dipajang di depan rumah atau di pusat2 kota untuk dijual murah, mungkin bisa dibilang hampir gratis. Rumah jompo tempat aku bekerja berinisiatif untuk menghibur para bewoners (penghuni panti jompo) dengan apa yang kami bisa. Aku dan para teman2 sekerja pun mulai berunding, ada yang menginginkan pemutaran film, ada yang drama, ada yang ballet, ada yang ingin diadakan sekedar pesta kecil2an, ada pula yang tidak mau mengadakan acara mengingat kami kekurangan orang.

Tapi akhirnya diputuskan untuk membuat dua acara, ballet dan drama. Hampir semua dari kami diharuskan bermain, bahkan Eric satu2nya laki2 di antara kami pun diwajibkan ikut. Untuk ballet dipilih bagian terakhir dari cerita “Romeo and Juliet” yang mengharukan itu, setelah berdebat seru karena sebagian yang lain ingin “Don Quixote”, karena kisahnya lebih heroik. Untuk drama kami memutuskan untuk memainkan “The Inspector-General” sebuah drama komedi ala Rusia. Aneh2 saja memang, ternyata Rusia mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan bangsaku Indonesia, penuh dengan pejabat yang korup dan sewenang2, berteriak2 seakan komunis (dari kata komunal, mengutamakan kepentingan orang banya) tetapi berjiwa oligark, yaitu seorang yang berjiwa oligarki (pemerintahan berada di sebagian kecil segmen masyarakat). Eric membisiku begitu, setelah melihat aku hanya melongo saja, karena aku tidak tahu apa isi drama Rusia itu.

Aku kebagian peran menjadi Juliet, dan setelah beberapa lama berdebat, Janice kebagian peran Romeonya. Sebenarnya peran itu ditugaskan ke Eric, tapi Eric dengan mentah2 menolaknya, selidik punya selidik, ternyata dia seorang gay, yang mungkin jijik jika berciuman dengan lawan jenisnya seperti aku ini. Rumor itu ternyata benar, Eric yang akrab sekali dengan dunia malam itu, sepertinya sudah bosan dengan perempuan dengan segala tetek bengeknya.

Siang itu pertunjukan begitu meriah, kulihat lagi senyum2 bahagia di antara orang2 tua itu, yang biasanya sehari2 cuma bisa memerintah dan teriak2 minta tolong. Dan pertunjukan balletku sebagai Juliet adalah pertunjukan pamungkas, dengan adegan ciuman Romeo kepada Juliet, Janice menciumku dengan lembut, lembut sekali, getaran yang bertransformasi menjadi sensasi indah. Aku kaget campur bingung, ciuman itu terasa sangat lain. Geletarnya merambat ke seluruh tubuh…., aku sampai meneteskan air mata.

Setelah acara selesai, Janice menghampiriku, menanyakan apakah aku baik2 saja, karena melihat aku menangis tadi. Aku bilang baik2 saja, karena aku menangis bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang tak terkatakan dalam ciuman tadi. Janice mengundangku datang ke rumahnya malamnya, sekedar untuk masak bersama dan keluar ke pusat kota untuk sekedar cuci mata.

Sudah agak larut ketika kami pulang dari tempat kerja kami, aku dan Janice yang kebetulan tinggal tidak terlalu jauh pulang bersama2. Dingin musim semi masih semilir menebarkan nuansanya, masih membuat bunga2 sedikit malu untuk menawarkan indahnya. Kami berjalan agak bergegas, diantara gedung2 kuno dan museum yang memang menjadi ciri khas kota yang aku tinggali. Janice berjalan sambil menggenggam tanganku, dingin yang tadi aku rasakan, berubah menjadi hambar atau mungkin netral, aku tidak tahu. Yang pasti aku seperti cawan anggur yang telah kehilangan isinya, berisi partikel2 udara dan siap dimasuki oleh tuangan selanjutnya.

Sekitar jam 7 malam, aku ke dapur untuk memasak. Tak lama kemudian Janice pun datang, dia sudah berpakaian rapi, agak lain dari biasanya. Kami pun masak Tagliatelle(Sejenis pasta, bisa juga disebut fetuccini), salah satu makanan favorit yang hampir disukai semua orang di tempat kerja kami.

Diam2 Janice merangkulku dari belakang dan membisikkan..

“I love you…”

aku segera menyibakkan tangannya, dan berbalik arah.

“Kamu gila ya……” dengan nada ketus aku mengucapkannya, tak tahu apa ada kata lain yang lebih bagus.

“Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan orang yang mencintai” dengan tatapan matanya yang nanar ke arahku, Janice dengan geragapan mengucapkan kalimat itu.

Aku terdiam…………………………………………

Kami tinggal serumah sekarang, sedari awal aku sudah berusaha menyembunyikan berita ini. Tapi gosip dengan santernya beredar, apalagi di kalangan kelompok pengajian PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang sering aku ikuti. Aku menjadi terasing di forum yang biasanya syarat pesan2 moral itu. Anggapan bahwa aku seorang lesbi membuat mereka berhati2 terhadapku, dan dari pandangan mata mereka tampak sekali bahwa mereka seakan jijik melihatku. Itupun ditambah dengan sindiran2 halus nan menyakitkan ketika ada ceramah, tentang berbahayanya homoseksual (menyukai sesama jenis kelamin) baik itu gay ataupun lesbi. Bahkan Hasan, yang selama ini sangat dekat denganku, dan aku tahu dia memang menyukaiku, berubah 180% menjadi memusuhiku.

Hatiku hancur, arus yang biasanya ramah kepadaku, kini semakin deras menyeretku dan merobek2 pertahananku dengan pusaran2nya yang dahsyat dan mematikan. Tapi aku berusaha menguasai diriku, apapun yang terjadi, akal harus selalu berada di atas perasaanku. Kala sendiri di rumah dan Janice sedang kerja, aku sering menangis, mengapa Tuhan membalas ketaatanku selama ini dengan perasaan seperti ini. Tapi sekali lagi aku tidak perduli, apakah Tuhan yang katanya penuh cinta itu akan melarang makhluknya untuk mencintai makhluk lainnya walaupun itu sesama jenis. Dan aku tahu bahwa aku tidak sendiri, Janice yang berasal dari keluarga Katolik Ortodoks itupun menghadapi permasalahan yang sama. Keluarganya sangat marah begitu mendengar bahwa kami samen leven, menginjak2 ajaran Bible katanya. Sodom dan Gomora sudah diratakan dengan tanah, karena Tuhan geram atas tindakan penghuninya, dan sekarang anaknya yang melakukan hal yang sama. Tak jauh beda denganku yang dituduh makar terhadap ajaran Al-Quran, melakukan liwath (secara harfiah berarti perbuatan kaum nabi Luth, yaitu homoseksual) dengan terang2an.

Janice sudah mengatakan tentang hubungan kami kepada orangtuanya, dan dia sekarang menuntutku untuk melakukan hal yang sama, liburan summer ini dia ingin aku memperkenalkan dia ke keluargaku. Aku shock berat, tak tahu harus berbuat apa, berpikirpun aku tak berani, aku yang sudah sedemikian terisolir di kalangan sahabat2ku itu, tak mau membayangkan jika juga harus terdepak dari keluargaku yang sangat aku cintai. Sedemikian pedih penderitaanku, dan tidak ada yang bisa aku ajak membagi cerita, apalagi membagi duka. Kalutku semakin memuncak, sampai aku sakit, beberapa hari ini aku tidak masuk kerja. Kadang ada pikiran untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi ketika kupikir lagi, bukannya menyelesaikan masalah, malah akan tambah memperparah. Tiba2 ada keinginan untuk memainkan hp-ku, dan mataku terantuk pada sebuah nama, Ahmad, dia yang selalu diam ketika ceramah itu dan seketika berubah menjadi play maker dengan canda dan kata2nya sehabis ceramah. Aku meneleponnya…

“Met Ahmad (Dengan Ahmad…., budaya di Belanda ketika mengangkat telpon, langsung menyebut nama)……” terdengar suara merdunya di ujung sana.

“Assalamu alaikum, Ahmad kamu bisa datang ke rumahku sore ini”

“Hhmmm, aku kerja sampai jam 5 sore, gimana klo agak malam, jam 7an gitu, tidak apa2 kan..?”

“Oke deh, klo kamu capek ya jangan, tapi klo tidak terima kasih sekali. Tot vanavond”( Sampai malam nanti )

Ahmad datang tepat waktu, sudah menjadi kebiasaannya, justru karena dia tidak pernah memakai arloji. Gatal katanya kalau pakai arloji, dasar orang kampung hehehe…, tapi konon Ahmad ini pinter, dan religius juga, puasa senin kamisnya gak pernah ketinggalan walau udah lama di negeri orang. Tapi persetan dengan itu semua, mau dia puasa, mau dia sholat, mau dia bajingan, aku tidak perduli, aku hanya ingin curhat. Meminta sekedar pendapat tentang masalahku.

“Tuhan menghukum kaum Luth di Sodom dan Gomora, karena mereka mau melakukan homoseksual itu dengan paksa, dan waktu itu akan dilakukan kepada tamu nabi Luth, sebenarnya jika dengan baik2 dan tidak memaksa, mungkin kejadiannya akan berakhir lebih bagus”

aku kaget bukan alang kepalang, kata2 menyejukkan pertama kali yang kudengar dari orang yang kubayangkan beragama. Setelah aku cerita panjang lebar tentang diriku, aku hanya bisa berharap bahwa Ahmad menasihatiku baik2 bahwa perbuatanku salah dan sebagainya, atau menjelaskan bahwa perbuatanku adalah salah satu mental disorder ( kelainan jiwa).

“APA (American Psychiatric Association) sudah menerangkan bahwa homoseksual bukan kelainan, begitupun WHO. Kita menjadi gay, lesbi, biseks ataupun hetero bisa jadi karena memang dari sananya sudah begitu, naturenya kita sudah diciptakan begitu. Aku sebagai seorang hetero tidak berhak menyalahkanmu atas pilihanmu, karena cinta adalah ungkapan tulus seorang anak manusia, siapapun itu bahkan Tuhan sekalipun tidak berhak melarangmu”

pernyataan keduanya lebih membuat aku kaget lagi, seorang Ahmad yang selama ini diam ternyata menyimpan pernyataan2 toleran dan egaliter semacam itu.

“Tapi aku pernah juga mencintai seorang laki2 Ahmad, aku takut kalau aku mengingkari kodratku” aku masih kurang percaya apa yang dikatakan Ahmad, aku hanya ragu mungkin saja dia hanya ingin mengurangi deritaku dengan ucapan2nya.

“Memang, karena memang homoseksualitas tidak hanya dari nature saja, tapi juga dari nurture, lingkungan yang membentuk kita. Setiap orang bisa berbeda dalam tahap identifikasinya, teman sekolahku, seorang cowok yang sejak kecil tinggal bersama neneknya dan dikasih main boneka2 an akhirnya dia mempunyai sifat gay juga”

Krinnggg….Kringgg…Kringg………..

suara bel dipencet, rupanya Janice sudah selesai kerja. Aku segera bangkit meninggalkan Ahmad dan membuka pintu untuk Janice.

“Goede avond schatje..( Selamat Malam Sayang ) ” suara serak Janice langsung keluar begitu pintu terbuka.

“Kom binnen mijn lieveling”..(Silahkan Masuk Kasihku)

Janice langsung mencium aku di bibir. Setelah bibirnya lepas, aku segera ingin memperkenalkan Janice pada Ahmad, Ahmad rupanya agak melengos, mungkin baru pertama kali bagi dia menonton adegan ciuman dua cewek secara langsung di depan matanya, sehingga sifatnya yang malu2 menuntunnya untuk lebih baik tidak melihat.

Setelah perkenalan basa basi, Janice langsung pergi ke kamar mandi, dan aku melanjutkan percakapanku dengan Ahmad di kamar. Aku lebih suka di kamar karena pembicaraan kami memang rahasia, dan Janice tahu itu. Dia tidak cemburu kalau aku memasukkan cowok ke kamarku, tapi kalau cewek, dia pasti akan marah habis2an.

Rupanya dibalik diamnya, Ahmad adalah sahabat yang sangat hangat dan charming, pendengar yang baik dan pengertian. Sehingga dengan itu, aku mendapatkan perasaan untuk bebas mengungkapkan segala keluh kesahku. Akupun cerita panjang lebar tentang masa laluku di pesantren, dimana aku merasa bahwa kehidupanku sangat dikekang. Apalagi kalau masalah cinta2an, menerima surat saja disensor habis2an. Jika tidak dari keluarga, kemungkinannya kecil sekali untuk sampai ke tangan yang dituju. Mungkin aku menikmati hubungan sesama jenis sejak aku di pesantren, karena nafsu yang menggebu dan tanpa ada penyaluran sama sekali walaupun lewat surat, banyak di antara kami yang bercinta di antara kami sendiri. Aku tidak tahu angka pasti berapa yang melakukannya, tapi yang pasti cukup banyak di antara sekitar 3.000 an santriwati yang belajar di pesantren itu. Ahmad masih mendengarkan dengan setia, sambil kadang mengangguk, atau menerawang tak tahu ke mana.

“Struktur dan paham institusi religi memang perlu saatnya banyak dirombak, kejadian yang kamu alami tidak hanya terjadi di pesantren wanita, di pesantren laki2 pun seperti itu, bahkan bukan rahasia lagi banyak pula terjadi di kepastoran atau di paroki, di wihara dan sebagainya, dimana pengekangan seks telah melampaui batas normal.”

Lagi2 Ahmad membuatku tersentak, darimana dia tahu kalau kasus homoseksual itu terjadi di banyak lembaga2 suci itu. Jangan2 dia ngarang cerita saja, tapi aku tidak berani bertanya. Sepertinya dia bersungguh2 dengan ucapannya, dan aku tahu dia orang yang tidak suka berbohong.

“Ahmad, Janice meminta aku untuk memperkenalkannya pada keluargaku summer ini, sebagai pasanganku tentunya, karena dia sudah melakukannya pada keluarganya, bagaimana menurut pendapat kamu…? “

” Aku tidak tahu, itu terserah kamu, kalau kamu rasa orang tuamu siap, tidak masalah. Tapi maafkan kalau aku salah, menurut pertimbanganku, bapakmu yang kiai itu pasti akan shock berat. Sebaiknya jangan secara frontal memberitahu hubungan kalian, datanglah dulu apa adanya, biarlah Janice menjadi sedikit bagian dari keluargamu, mungkin kedatangan selanjutnya ketika suasana sudah cukup cair, baru kamu bilang terus terang”.

Aku memeluk Ahmad, dia rupanya kali ini yang kaget….

“Terima kasih ya…….”

tubuh Ahmad begitu hangat, tiba2 saja aku mengarahkan bibirku ke bibirnya, dia semula mengelak ke belakang, tapi aku segera menarik tubuhnya kembali.

“Kamu gila ya..” bisik Ahmad pelan-pelan.

“Cinta itu tidak sesederhana yang kita rasa” aku kembali memagut bibirnya.

http://amienstein.tripod.com/id153.html